Dokumentasi KAJ.or.id
The Keuskupan Agung Jakarta adalah yurisdiksi formal tertua dari Gereja Katolik Roma di Indonesia. Itu dimulai sebagai sebuah Prefektur Apostolik di 1807Secara resmi, Prefektur Apostolik dinaikkan menjadi Vikariat Apostolik Batavia di 3 April 1842, mencakup seluruh wilayah dari Hindia Belanda, dengan Mgr. I. Groff ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik pertamanya. Antara 1855 dan 1948, wilayah Vikariat Apostolik Batavia secara bertahap menyusut setelah didirikannya beberapa vikariat apostolik baru di luar Java serta di pulau Java sendiri. Setelah kemerdekaan Indonesia, pada 7 Februari 1950, nama Vikariat Apostolik Batavia diubah menjadi Vikariat Apostolik JakartaVikariat tersebut kemudian dinaikkan statusnya menjadi sebuah Keuskupan Agung Jakarta di 3 Januari 1961, dengan dua keuskupan suffragan: yang Keuskupan Bandung dan yang Keuskupan BogorSejalan dengan perubahan dalam konvensi ejaan Indonesia, nama Keuskupan Agung Djakarta secara resmi diubah menjadi yang Keuskupan Agung Jakarta di 22 Agustus 1973.
Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, sebuah batu besar dipelihara yang awalnya ditanam di pantai Sunda KelapaDiukir dengan salib dan bertanggal 1522, batu ini memperingati hubungan antara Perjalanan Portugis dan yang Kerajaan PajajaranIni menandai tanda paling awal dari keberadaan Katolik di apa yang sekarang menjadi Jakarta.
Kemudian, selama periode VOC aturan dari 1619 hingga 1792, semua kegiatan Katolik dilarang. Imam Katolik dilarang melakukan pelayanan di wilayah yang dikuasai VOC. Bataviaseorang imam Jesuit, Egidius d’Abreu, S.J.bahkan dibunuh di 1624Penyembahan Katolik hanya diizinkan di luar tembok Batavia bagi orang keturunan Portugis, dengan didirikannya sebuah gereja Portugis di luar kota pada 1696, yang sekarang dikenal sebagai Gereja Sion di Jl. P. JayakartaKeturunan Portugis ini juga diberikan lahan pertanian di daerah yang sekarang dikenal sebagai TuguDi dalam abad ke-18, VOC mengizinkan imam Katolik untuk berhenti di Batavia guna melayani umat, baik yang keturunan Portugis maupun karyawan VOC. Selama masa pemerintahan DaendelsKatolik akhirnya diizinkan untuk merayakan Massa secara terbuka di 1808. Di 1810, Daendels juga memberikan izin pembangunan gereja Katolik resmi pertama di Batavia, yang terletak di Gang Kenanga Utara, dalam apa yang sekarang menjadi Senen area. Gereja pertama ini dibongkar pada 1989.
Di 1830Gubernur Jenderal Dari Bus Ghisignies menyerahkan rumah bekas komandan tentara dan wakil gubernur jenderal kepada Prefektur Apostolik BataviaDi situs ini sekarang berdiri yang Katedral Jakarta.
Di 1856, the Suster Ursulin mendirikan biara pertama Biara Besar, di Batavia pada Jl. Juanda, diikuti oleh sebuah biara kedua, Klein Klooster, di Jl. Pos di 1859, dan kemudian biara Ursulin lainnya di Jatinegara e Kramat. The Suster-suster St. Carolus Borromeus dibuka Rumah Sakit St. Carolus di 1919Pada periode awal, pelayanan pastoral di Batavia dilakukan terutama oleh Imam Jesuit, kemudian dibantu oleh Imam Fransiskan di 1929 dan para imam dari Misionaris Hati Kudus (MSC) di 1932.
Dalam bidang pendidikan, kaum Jesuit mendirikan Asosiasi Strada di 1924, membuka sekolah pertamanya pada tahun yang sama di Gunung Sahari. Di 1927Strada mendirikan sekolah menengah berasrama di Menteng, yang kemudian menjadi Canisius College di 1932..
Selama Pendudukan Jepang, Vikaris Apostolik Batavia pada saat itu, Mgr. P. Willekens, S.J., bekerja untuk memastikan bahwa rumah sakit dan sekolah Katolik terus beroperasi dan melayani umat selama masa sulit tersebut.
Setelah Indonesia merdeka, the Gereja Katolik mulai tumbuh lagi. Jumlah umat yang setia meningkat, begitu juga jumlah paroki. Paroki Mangga Besar didirikan pada 1946, sebuah paroki di Jl. Malang di 1948, dan Paroki Tangerang juga di 1948Meskipun hanya ada 12 paroki pada tahun 1950, jumlahnya meningkat menjadi 16 paroki pada tahun 1960, 23 paroki pada tahun 1970, 34 paroki pada tahun 1980, 39 paroki pada tahun 1988, 40 paroki pada tahun 1990, dan oleh 2002 terdapat 53 paroki, menyajikan 411.036 orang percaya dengan 277 pendeta.
Di 2007, the Perayaan ke-200 tahun Gereja Katolik di Jakarta dikenang. Pada saat itu, sudah ada 60 parokiPerayaan puncak dari bicentennial diadakan di Istora Senayan di 26 Mei 2007, dihadiri oleh sebagian besar uskup dari seluruh Indonesia.
Pekerjaan dari Roh Kudus telah terus berkembang, yang tercermin dari meningkatnya jumlah umat beriman, yang oleh 2011 telah mencapai lebih dari 466.638 orang, dan dalam pendirian paroki-paroki baru. Dimulai dari Katedral, Gereja berkembang di seluruh wilayah ibu kota Jakarta, Bekasi, dan TangerangSecara teritorial, yang Keuskupan Agung Jakarta dibagi menjadi 8 keuskupan, yang terdiri dari 61 paroki dan stasiun misi siap berkembang menjadi paroki baru.
Dokumentasi KAJ.or.id
Gerakan dari Roh Kudus juga telah menimbulkan karakter khas dari a Gereja metropolitan yang dinamis. Kelompok kategorikal telah berkembang pesat Di tengah kehidupan kota yang sibuk, kelompok-kelompok ini berkumpul dan membentuk komunitas berdasarkan kekhawatiran, minat, bidang pekerjaan, atau latar belakang profesional yang sama atau terkait erat di antara anggota mereka. Pelayanan pastoral kategorikal diorganisasi menjadi tiga kelompok utama:
- Pesona (Persaudaraan Mitra Kategorial),
- Karismatik, dan
- PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Katolik Keuskupan Agung Jakarta).
Sebagai Gereja, the Keuskupan Agung Jakarta telah melakukan perjalanan melalui lebih dari 200 tahun sejarah, bersatu sebagai Umat Allah:
1. Dimulai sebagai ankomunitas bawah tanahdi dalam abad ke-17 dan ke-18
2. Melalui masa era tiga Prefektur Apostolik ketika Jakarta masih dikenal sebagai Batavia;
3. Melampaui usia lima Vikaris Apostolik;
4. Berbuah sebagai Gereja tertentu, yang Keuskupan Agung Jakarta, dengan Uskup Agung pertamanya, Mgr. A. Djajasepoetra;
5. Di tengah pertumbuhan pesat jumlah umat, selama kepemimpinan pastoral Mgr. Leo SoekotoGereja Jakarta mengadakan acara tersebut Sinode pertama pada tahun 1990, membangun visi masa depan untuk menjadi a Gereja misionaris yang mandiri, dengan daya tarik dan ketahanan yang kuat;
6. Iman telah berakar dan terus berkembang sepanjang perjalanan sejarah Keuskupan Agung Jakarta, tetap teguh di tengah gejolak nasional dan konflik politik. Selama beberapa dekade yang ditandai oleh gejolak dan perubahan, Keuskupan Agung dipimpin oleh Mgr. Julius Kardinal DarmaatmadjaMeskipun kesulitan dalam membangun fasilitas gereja, pada 6 Oktober 1996, tonggak sejarah dalam sejarah Gereja di Jakarta diperingati dengan pemberkatan Gereja St. Servatius, Paroki Kampung Sawah, yang jemaatnya sebagian besar terdiri dari Betawi setia. Berkat ini menandai dan merayakan Seratus tahun komunitas Katolik pribumi pertama di Jakarta. Di 2006, the ulang tahun ke-200 Keuskupan Agung Jakarta dirayakan;
7. Memakai moto Pelayanan kepada Tuhan dengan segala kerendahan hati, di 28 Juni 2010, Mgr. Ignatius Suharyo dilantik secara resmi sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta. Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati (Kisah Para Rasul 20:19), membimbing dan memperkuat Gereja dalam pelayanan pastoralnya.
Dokumentasi KAJ.or.id
Filsafat Logo
Keuskupan Agung Jakarta
Pengantar
Penjelasan singkat berikut ini dimaksudkan untuk menjelaskan dua pokok pikiran yang berhubungan langsung dengan logo Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).
Kedua pokok pikiran itu meliputi:Pertamapertimbangan-pertimbangan dasar mengapa Keuskupan Agung Jakarta memerlukan sebuah logoKedua,Explanation about the KAJ logo which includes two main elements, namely the choice of colors and the characteristics or identity of KAJ, and the meaning of signs or symbols in the KAJ logo that express the spirit, spirituality, and fundamental aspirations/directions.
I. Pertimbangan-pertimbangan Dasariah
Secara historis keberadaan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dimulai secara embrional sejak 8 Mei 1807, yaitu ketika Paus Pius VII mengangkat seorang imam, Jacobus Nelissen, sebagai Prefek Apostolik pertama dan berkedudukan di Batavia (Jakarta). Fungsi pelayanan dan kegembalaan gerejawi ini meliputi seluruh wilayah Nusantara.
Harapan tentang perkembangan Gereja Katolik di Nusantara secara umum, dan Jakarta secara khusus, tidak sia-sia. Karena Keuskupan Apostolik kemudian berkembang menjadi Vikariat Apostolik, dan berlanjut menjadi Keuskupan. Selama periode tersebut, secara dinamis KAJ bersama seluruh warga bangsa membangun dan menciptakan kehidupan bersama yang semakin bermakna. In the same period, there were tangible efforts to formulate identity and selfhood as a congregation or community of believers.
Kesadaran diri KAJ sebagai warga Gereja Semesta yang hadir dalam dinamika bangsa Indonesia semakin mendorong untuk berkontribusi bagi kebaikan dan kesejahteraan bersama. Salah satu kontribusi konkret KAJ adalah kesaksian tentang hidup dan karya warga Gereja Katolik KAJ yang diinspirasi oleh Injil Yesus Kristus dalam konteks keberadaan KAJ.
Melalui logo KAJ ini, kontribusi tersebut diartikulasikan sekaligus seluruh warga Gereja KAJ diingatkan akan panggilan dan tugas suci yang tak kunjung selesai diwujudkan, yakni berpusatkan pada persekutuan dengan Dia, Sang Gembala Sejati Yang Bermurah Hati, Gereja KAJ semakin peduli serta terlibat melayani sesama. Justru melalui inilah kasih dan kemuliaan Allah semakin nyata, yakni ketika ciptaan-Nya hidup semakin bermartabat.
II. Penjelasan Mengenai Logo KAJ
Warga KAJ, yang terlibat aktif dalam usaha menyadari diri dan mengartikulasikan keberadaan serta panggilan sucinya tersebut, menciptakan logo khusus KAJ. Secara garis besar logo ini terdiri atas dua hal penting, yakni:
1. Warna dan Identitas Diri
Logo KAJ ini memanfaatkan dan menggabungkan warna-warni. Pilihan warna dan kombinasi dalam logo ini menyatakan suatu karakter yang dinamis, penuh kekuatan, dan berdaya pikat. Sifat karakteristik ini hendak menegaskan situasi yang tidak mudah dilupakan. Di balik pilihan warna dan kombinasi ini terbujur suatu harapan kokoh, yaitu seraya meneladan semangat Sang Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan (bdk. Yoh 14:6) dengan rendah hati semoga Gereja KAJ semakin mencintai dunia dengan kepedulian akan panggilan akhirat.
1.1. Merah
Merah termasuk dalam kelompok warna panas yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi sesama dalam banyak hal. Selain kuat dan agresif, merah menyalurkan kehangatan layaknya lidah-lidah api. Dalam liturgi Gereja Katolik, merah merujuk pada kekuatan (kehadiran) Roh Kudus, kejayaan, kemenangan, pengurbanan diri. Itulah sebabnya, merah selalu mewarnai perayaan liturgi Minggu Palma, Jumat Suci, Pentakosta, peringatan dan pesta para martir, dan lain sebagainya. Dasar-dasar pemikiran inilah yang diharapkan menjadi ilham bagi warga Gereja KAJ untuk membangun kebersamaan dalam iman yang benar, harapan yang teguh, dan kasih yang sempurna.
1.2. Kuning
Kuning menyiratkan cahaya yang hidup dan cerah. Warna ini menarik perhatian sekaligus melambangkan semangat sukacita dan kemurnian jiwa. In Jesus Christ Himself, the Compassionate Shepherd, the spirit is fully revealed, which is hoped to inspire the life and work of all members of the KAJ Church in the concrete and everyday world. Semangat yang terwujud itu juga diharapkan berlangsung lama (dan tidak sementara) serta mendalam.
1.3. Biru
Langit yang bersih dan jernih selalu berwarna biru. Warna biru bersifat menyejukkan dan penuh daya. Dalam tradisi gerejawi, warna tersebut dimanfaatkan untuk menandakan kebijaksanaan Ilahi, yang terus-menerus dihembuskan oleh Roh Kudus (bdk. Yoh 3:8). Roh Kudus, yang adalah Roh Yesus Kristus, itulah yang menghidupkan serta menguatkan semua orang yang percaya dan berserah kepada-Nya. Roh kebijaksanaan Ilahi itu juga yang menyemangati dari dalam para gembala baik yang tekun, tidak mudah menyerah, penuh harapan menghimpun, menyatukan, mencari domba-domba selama sejarah Gereja KAJ.
1.4. Putih
Biasanya warna putih dimaknai sebagai tanda kesucian,tanpa celaperdamaian Warna itu juga melambangkan Kristus yang dimuliakan oleh Bapa Surgawi. Putih juga dapat mengungkapkan harapan para gembala yang baik dan murah hati dalam usaha menjunjung tinggi tugas serta panggilan penggembalaan.Tugas dan panggilan ini didasarkan pada pelayanan, pengarahan dan bimbingan, serta keberadaan bersama dengan domba-dombanya.Putih, polos, tulus ikhlas dan tanpa pamrihdapat diidentikkan dengan kerendahan hati, pengampunan, pengorbanan, mendahulukan keselamatan umat yang beragama dalam jenis, kepentingan, strata sosial, dan lain sebagainya.
Jadi, warna-warni yang dipilih dan dimanfaatkan untuk logo KAJ secara positif menegaskan maknanya. Itu secara mencolok mata diabadikan dalam frase yang menjadi ciri autentik dan identitas logo KAJ, yaitu gembala baik dan murah hati. Makna identitas ini dirangkum dalam Yoh 10:14 (yang mengatakan, "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku") dan Luk 6:36 (yang mengatakan, "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati"). Teks-teks lain yang merujuk dengan sangat jelas pada sifat murah hati adalah Luk 10:25-37, bdk. Matius 5:7 Dengan kata-kata lain, "gembala baik dan murah hati" merupakan semangat atau spiritualitas yang menopang seluruh keberadaan dan kiprah KAJ.
2. Makna Simbolik Logo KAJ
Pusat logo KAJ bersifat trinitaris dan kristologis. Allah Bapa mengasihi dan bermurah hati kepada semua ciptaan-Nya. Kasih dan kemurahhatian Bapa menjadi nyata dalam peristiwa Yesus Kristus yang memuncak dalam peristiwa salib, yaitu sisi lain dari kebangkitan. Yesus Kristus adalah yang kini menyertai Gereja dan hidup dalam Roh Kudus-Nya.
Allah yang demikian itu divisualisasikan dalam logo yang sangat khas KAJ. Because the signs or symbols used here express spirituality, identity, and at the same time the basic pastoral direction of KAJ. Selain itu, tanda atau simbol yang beraneka ragam dalam logo KAJ dipadukan menjadi satu satuan yang tak terpisahkan.Berikut ini paparan dimaksudkan untuk memperlihatkan makna simbolis.
2.1. Lidah Api
Lidah api melambangkan kekuatan transformasi, yang mengingatkan kita akan karya Roh Kudus pada Pentakosta (bdk. Kis 2:1-13). Roh Kudus, yaitu kuasa Allah sendiri, mengubah para murid Kristus menjadi pribadi yang dimampukan untuk melakukan karya-karya Ilahi. Roh yang sama telah mengilhami gembala yang murah hati untuk hidup dan berkarya dahulu, sekarang, dan masa yang akan datang.
Selain itu, simbol lidah api itu mengesankan berada di bagian atas Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Monumen ini merupakan salah satu ciri khas Kota Jakarta, tempat Keuskupan ini berakar.
2. 2 Bunga Kelapa (manggar)
Simbol Jakarta juga diungkapkan dengan Bunga Kelapa (manggar) dan seringkali menjadi pernik-pernik penghias Ibu Bumi Jayakarta (atau Betawi). Bunga kelapa (manggar) yang menyimbulkan bumi Jayakarta, ingin mengingatkan kita akan (masa lalu tentang) nyiur yang subur dan melambai, yang menghidupi masyarakat warga. Dengan itu pun, harapan ekologis Keuskupan Agung Jakarta ingin ditampilkan agar Gereja juga memiliki peran dalam menjaga keseimbangan dan keutuhan ciptaan di wilayah Jayakarta.
Bunga Kelapa yang merupakan Keseimbangan ekologis ini seperti kodrat Yesus Kristus, yang berjumlah dua ini ingin melambangkan dua kodrat Yesus Kristus yang ilahi dan insani, yang mengikat KAJ dalam hidup dan pelayanannya.
2.3Stilir Tubuh Manusia
Tanda ini dimaksudkan untuk menunjukkan keberagaman. Keadaan dan kondisi masyarakat anggota Gereja, dan dengan demikian juga anggota masyarakat di wilayah KAJ, sangatlah beragam baik dari perspektif sosial, politik, agama, ekonomi, kultural, ideologi. Perbedaan satu sama lain juga berkaitan dengan masalah kesenjangan, pola hidup, status, ras, suku, dan lain sebagainya. Jumlah 10 (sepuluh) stilir tubuh manusia hendak mengungkapkan angka bulat, penuh, kompleksitas masalah yang dihadapi Gereja KAJ. Inilah konteks keberadaan, tempat Gereja KAJ berpijak sekaligus diutus. Di dalam Gereja yang kontekstual inilah Allah Tritunggal Yang Mahakudus menjadikan sang gembala baik yang murah hati!
2.4Tangan Menggenggam Hati
Gembala yang baik dan murah hati, yang maknanya mengilhami pelayanan pastoral di KAJ, ditandai dengan tangan yang memiliki hati. Maka, hati itulah yang menggerakkan tangan untuk melayani sebaik mungkin demi kebaikan dan keselamatan umat. Tangan yang berhati menyatakan kesiapsediaan dan kerelaan untuk membuat segalanya bermanfaat bagi kehidupan.
2.5Tongkat Gembala dan Kawanan Domba
Hati dan tangan, yang telah disebutkan di atas, seperti pengikat yang membuat pelayanan itu bersifat otoritatif.Pelayanan yang demikian itu dihadirkan dalam tanda “tongkat gembala” (tongkat). Manfaatnya sangat jelas, yaitu menjaga, mengarahkan, membimbing, dan melindungi. Penggembalaan yang otoritatif atas kawanan domba selalu bercirimutualis, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci, "Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku". (Yoh 10:14).
Secara kuantitatif, jumlah domba ada 5 (lima). Ini ingin menyatakan bahwa ada banyak pribadi yang dipercayakan kepada Gereja KAJ. Lebih dari itu, jumlah lima tersebut mengingatkan semua domba akan tugas kegerejaan yang semestinya dilaksanakan dengan setia dan bakti. Kelima tugas itu meliputi bidang persekutuan hidup (koinonia), perayaan liturgi (liturgi), pewartaan (kerygma), pelayanan (diakonia), dan pengorbanan/kesaksian (martyria).
2.6Salib dan Pancaran Sinar
Tuhan Yesus meninggal di kayu salib. Dengan demikian, salib mengubah maknanya dari sarana penghinaan menjadi tempat pemuliaan dan penebusan. Di salib, Yesus mewujudkan kasih-Nya yang paling berharga. Dia mengorbankan semuanya agar semua ciptaan Bapa-Nya mengalami damai sejahtera. Pengorbanan yang menyeluruh dan radikal ini menyatakan kasih Allah yang tak berkesudahan. Salib, dengan demikian memancarkan kekuatan Ilahi yang menerangi dan membebaskan. Kegelapan dan kekuatan jahat dikalahkan-Nya.
Panjang-pendeknya sinar salib hendak memperlihatkan Gereja KAJ dipanggil untuk meneruskan tradisi sehat, warisan dan teladan para rasul, sehingga panggilan hidup rasuli itu menjadi yang terutama. This is presented with a depiction of a light (red) that is longer than the light (yellow).
Terdapat berkas sinar merah sebanyak 12 (dua belas). Angka pasti ini secara tradisional dikaitkan dengan 12 rasul, yang secara langsung dan tidak langsung dibentuk oleh Tuhan Yesus. Mereka ditugaskan untuk memancarkan kemuliaan yang nyata dalam hidup, pribadi, dan firman Yesus Kristus.
Sementara itu, ada 33 (tigapuluh tiga) berkas sinar kuning, yang sebagian ada di balik salib. Angka simbolik ini merujuk pada keyakinan tradisional tentang usia Yesus, saat Ia menyerahkan hidup-Nya karena kasih-Nya. Dan sejak wafat Yesus di usia yang ke-33 itulah Roh Kudus mulai meneruskan karya-karya Ilahi di dunia.
Kekuatan Ilahi yang terpancar melalui salib itu sangat jelas terlihat dalam cara hidup rasuli. Gereja KAJ mewarisi semangat dan cara hidup tersebut, mengingat semua anggota Gereja KAJ dengan pertolongan rahmat Ilahi bekerjasama mewujudkan tugas penggembalaan yang murah hati.
2.7. Tahun 1807
Tahun 1807 (tepatnya pada tanggal 8 Mei) adalah tahun berdirinya Prefektur Apostolik Batavia dengan penetapan Imam Jacobus Nelissen sebagai Prefek Apostolik pertama Batavia. Status Perfektur Apostolik itu seiring waktu berkembang menjadi Keuskupan Agung Jakarta (pada tahun 1961).
2.8. Bentuk Lingkaran
Simbol lingkaran ini dimaksudkan untuk menyatakan kebulatan, keutuhan, dan ketidakmenduaan otoritas yang memimpin, tangan yang melayani, hati yang dipanggil untuk mewujudkan kesucian. Dengan demikian, lingkaran itu hendak menegaskan totalitas kepemimpinan yang melayani, seperti Sang Gembala Baik Yang Murah Hati, yaitu Yesus Kristus. Berkat dan melalui kepemimpinan yang demikian pula maka logo yang keseluruhannya berbentuk lingkaran menandai kebersamaan yang utuh, bulat di dalam Roh-Nya sebagai Gereja.
Pmenutup
Akhirnya, logo KAJ ini merupakan satu kesatuan, yang disusun secara kreatif dan dengan memperhatikan khazanah tradisi, kitab suci, magisterium, ajaran sosial Gereja, penghayatan-pengalaman iman yang dinamis dan kontekstual.
Semoga, logo ini selain memberikan inspirasi bagi pelayanan yang visioner seluruh Gereja KAJ, juga menjadi pengikat yang membebaskan warga Gereja dari kesempitan cinta diri.Dengan demikian logo KAJ ini terus-menerus menjadi tanda pengingat kita semua untuk semakin setia kepada Allah dalam pelayanan kepada segenap ciptaan-Nya.
BULAN HARAPAN TIDAK MENGHANCURKAN
Apa itu Yubileum?
Paus Fransiskus menyatakan harapan:
Semoga Tahun Jubileum ini menjadi kesempatan bagi seluruh Umat Allah untuk bertemu dengan Kristus, yang adalah Pintu dari keselamatan kita (Yohanes 10:7–9) dan yang Sumber Harapan (1 Timotius 1:1).
Dalam tradisi Yahudi, Tahun Jubilei adalah tahun kelima puluh dan pelaksanaannya sangat terkait dengan perayaan a Tahun PerdamaianTahun Jubliee diidentifikasi dengan pembebasan budak dan yang pengampunan hutang (lihat Imamat 25).
Di 1470, Paus Paulus II mengubah perayaan agar terjadi setiap 25 tahun, meskipun Paus juga dapat mengumumkan Tahun Yobel Luar Biasa, seperti yang dilakukan selama Tahun Belas Kasihan pada tahun 2016.
Dalam tradisi Katolik, Tahun Jubilei adalah waktu untuk pembaruan spiritual, pertobatan, dan karya amal.

